Jalannya Revolusi Kita (Jarek)

Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen!

Dan Tuhanpun Menangis……..

Alkisah, dari dongeng sebelum tidur, ada diceritakan tentang Tuhan dan ciptaannya. Ada 3 mahluk yang diciptakan Tuhan. Malaikat, setan dan manusia. Malaikat dan setan bernasib sama yaitu sama-sama bernasib ‘jelek’. Malaikat seumur hidupnya tak bisa berbuat selain hal yang baik dan setan seumur perjalannya tak bisa berbuat selain yang jahat.

Bagaimana dengan manusia?

Manusia bernasib ‘lebih baik’. Bisa memilih untuk berbuat jahat dan berbuat baik. Diberi otoritas untuk mengendalikan dirinya. Dilengkapi piranti lunak seperti remote control yang bernama nurani untuk menimbang kebaikan dan keburukun. Diberi manual book ketika ia lahir (yang diterjemahkan para orang tua untuk memilih kitab tertentu, bergantung pada kegemaran masing-masing dalam memilih kitab baik yang bertema ketenangan, kedamaian, cinta maupun heroisme).

Tapi saat seseorang berbuat baik dan diperjalanan dia tergoda untuk berbuat jahat, manusia tak seberuntung malaikat yang tak bisa tergoda. Dan malaikat menangis.

Tapi saat seseorang berbuat jahat dan diperjalanan tergoda berbuat baik, manusia tak seberuntung setan yang tak bisa tergoda berbuat baik. Dan setan menangis menjerit-jerit.

Sementara manusia-manusia yang ditangisi tak pernah sadar akan tangisan-tangisan malaikat maupun setan. Hingga akhirnya Tuhan pun menangis melihat tangisan ciptaan-ciptaannya yang tak putus-putusnya dan saling bergantian.

3 Mei 2009 Posted by | agama, sosial | Tinggalkan sebuah Komentar

Pemimpin, Kita dan Babi

Bila menyandingkan ketiga nama tersebut, yang terbayangkan hanyalah uang. Pemilihan Legislatif (Pileg) memakan dana sangat besar (untuk tahun 2004 sekitar 4,4 Triliun sementara Pemilu 2009 sebesar 47 Triliun) sementara  hasilnya 10 kali lebih buruk dari 2004. Padahal beberapa anggota KPU telah masuk ke dalam bui. Toh, hasil yang mereka kerjakan (walaupun menjadi pesakitan dan dituduh korupsi) hasilnya baik dan dapat dipertanggung jawabkan tanpa saling menyalahkan dengan pemerintah atau pihak-pihak lainnya. Atau dengan kata lain, walau mereka korupsi hasilnya tetap baik.

Bagaimana dengan KPU sekarang? Dana berhamburan dan hasil tak jelas. Menurut Independent Monitoring Organization (IMO) telah terjadi penyimpangan logistik pemilu oleh KPU sehingga negara dirugikan mencapai Rp 28,428 miliar. IMO merupakan gabungan dari Indonesia Budget Center (IBC), Indonesia Corruptioon Watch, SEKNAS FITRA, KIPP Indonesia, Indonesian Parliamentary Center (IPC), The Initiative Institute, dan Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD).

“Kami mendesak pula DPR RI agar melakukan audit khusus terhadap KPU. Sedang KPK harus memeriksa lebih lanjut indikasi penyimpangan ini,” ucap Sulastyo dari IPC.

Dari temuan ini, IMO menduga telah terjadi modus pemborosan sistematis, tidak efisien, dan dugaan pengadaan logistif fiktif. Laporan mereka sudah diserahkan langsung pada Wakil Ketua KPK bidang Pencegahan Haryono Umar (sumber).

KPU mempunyai jawab yang sangat baik. KPK diharapakan untuk menunda rencana pengevaluasian pengadaan informasi teknologi (IT) penghitungan suara hasil pemilu legislatif 2009 yang lalu. Menurut Anggota KPU Abdul Aziz, lembaganya menyambut baik rencana KPK untuk mengevaluasi pengadaan IT tabulasi, namun sebaiknya pemeriksaannya dilakukan setelah pelaksanaan pemilu presiden (Pilpres).

Ketua KPK Antasari Azhar mengatakan KPK akan masuk dalam tahap awal dengan melakukan pengumpulan data dan evaluasi terhadap pengadaan IT KPU. KPK melakukan evaluasi karena banyak pihak menyatakan tabulasi elektronik nasional KPU tersebut gagal dan tidak memenuhi harapan sesuai target, cepat, tepat, dan akurat.

Bagaimana dengan kabar Ketua KPK kemarin? Ketua KPK, Antasari Azhar dinonaktifkan sementara dari jabatan Ketua KPK. Hari senin, beliau akan diperiksa di Polda tersangkut kematian Nasrudin Zulkarnaen. Mengenai status Antasari sampai hari ini simpang-siur. Pengacara menyatakan pemeriksaan di Polda nanti adalah sebagai saksi. Sementara beliau telah dinyatakan dicekal.

Kemudian beliau sakit. Semoga tak ada hubungannya dengan Flu Babi. Yang bisa ditarik garis merahnya, di saat Pileg bermasalah muncul Pilek yang lebih bermasalah. Semua melupakan Pileg 2009 dan mengingat Pilek akibat Flu Babi. Padahal Pileg akibat Pileg 2009 sangat menentukan Indonesia 5 tahun ke depan. Bagaimana kualitas demokrasi ke depan bisa terlihat saat ini.

Dan di saat KPU akan diperiksa oleh KPK, ternyata telah didahului pemeriksaan terhadap Ketua KPK. Pencopotan terhadap beliau sangat menakutkan di detik-detik orang haus akan kebenaran dan berita malam ini (1 Mei 2009). Penangkapan terhadap beliau sama menakutkannya dengan mahkota yang telah mereka (DPR) serahkan dengan uji kelayakan yang berada di kuasa mereka (DPR).

Pemimpin, Kita dan Babi

Terlepas benar atau salahnya Antasari di persidangan nanti, Indonesia berada pada fase yang terus bergeliat. Di jaman pak Harto ada yang namanya counter isu ataupun bentuk lain seperti bola salju untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Masyarakat kita gampang lupa dan gampang terenyuh (makanya infotainment dan sinetron memiliki ratting tertinggi). Dan baru sebulan yang lalu kita telah menikmati Pileg yang amburadul dan kekecewaan kita cepat hilang oleh kekhawatiran kita pada Flu Babi dan keheranan kita pada penangkapan Antasari. Sepertinya koalisi-koalisi hanya senyap lewat di depan mata dan kita tak sadar di saat nya nanti pada Pilpres 2009 harus memilih yang tak berkenan di hadapan kita. Memilih yang baik diantara terjelek.

Apa persamaan bangsa kita dengan Babi? Untuk menyuruh Babi berjalan ke depan tidak bisa dengan mendorong pantatnya. Untuk memaksa babi mundur tidak dengan menarik ekornya. Tapi kebalikannya.

Untuk menyuruh Babi berjalan ke depan adalah dengan menarik ekornya, maka Babi akan berjalan atau berlari ke depan. Begitu juga negeri ini yang tak ubahnya dengan Babi yang terus berkubang dengan segala bencana dan permasalahan ekonomi maupun carut-marut abdi-abdi negara serta korupsi yang membudaya. Sepertinya bangsa ini susah untuk didorong maju, saling sikut-sikutan dan berjalan mundur. Reformasi telah pelan-pelan mati, yang terlihat saat ini adalah bagi-bagi kekuasaan. Baiknya kita cepat-cepat belajar pada Babi sebelum Babi punah dari muka ini atau sebelum kita tertular olehnya.

Kita bisa maju walau harus dengan mundur selangkah yaitu dengan merendahkan ambisi kekuasaan demi kesejahteraan dan kepentingan rakyat banyak. Baiknya pemimpin-pemimpin kita malu dan mau belajar pada Babi.

3 Mei 2009 Posted by | Politik | | 1 Komentar

SBY Menang Sebelum Bertanding

Setelah hasil Pileg 2009  diumumkan (walaupun hasilnya belum final), Partai Demokrat menduduki perolehan sementara terbanyak. Di antara ketidak puasan kelompok pimpinan partai-partai yang bertemu di jalan Teuku Umar, nama SBY sebagai kandidat Capres kian berkibar.

SBY dan tim pemenangnya telah sukses ‘memenangkan’ SBY sebelum bertanding. Mengapa? Karena Golkar sebagai partai besar telah dijaring atau bisa juga dikatakan ‘didikte’ oleh 5 kriteria yang diinginkan SBY untuk wakilnya kelak. Internal partai Golkar terpaksa merumuskan rumusan untuk ikut didikte atau tidak. Sebuah kekalahan bagi Golkar walaupun bisa menjadi Wakil bagi SBY. Belum lagi para fungsionaris maupun senioran Golkar terpaksa turun untuk meredakan ketegangan internal mereka. Begitu sabarnya mereka menunggu tim lobi SBY mendatangi mereka. Akankah Golkar akan mengalami degradasi kemampuan pada Pemilu 2014 nanti, bila JK dicalonkan kembali bila SBY terpilih? Sepertinya mudah ditebak siapa yang terbiasa mengklaim keberhasilan pemerintah.

Untuk manuver PKS yang menginginkan pemerintahan yang Presidensil, dengan syarat Wapres bukan Ketua Umum adalah hal mulia. Tapi dibelakang itu, tetap kekuasaan yang diinginkan. Koalisi minus JK atau Golkar, akan memuluskan Wapres yang mendampingi SBY nanti untuk menjadi Kandidat Presiden 2014 nanti. Dan alih-alih politik santun, tetap haus kekuasaan yang menjadi halal bagi PKS.

Bagaimana dengan partai lain yang ingin berkuasa? PAN dan PPP ribut untuk memnentukan arah. SBY telah menjadi sentral, SBY diperebutkan. SBY telah menang sebelum bertanding. Siapa yang melakukan? Partai-partai telah berbohong pada rakyat dengan manuver-manuver menuju kekuasaan.  Keramahan dan ketulusan mereka pada kampanye-kampanye dan janji-janji ternyata bohong belaka. Mereka semua mandul.

25 April 2009 Posted by | Politik | Tinggalkan sebuah Komentar

Wawancara Imajiner dengan Capres Naga Bonar (1)

Wawancara imajiner dengan Capres Naga Bonar (1)

Oleh edi santana sembiring
Dari oborolan di kedai kopi beberapa hari ini, aku dengar si Naga mau jadi presiden. Entah dari mana idenya, tapi isu itu mengalahkan berita rencana pertandingan Chris John. Pucuk dicinta ulam pun tiba, yang dibicarakan tiba-tiba lewat. Jalannya tergesa-gesa.“Mampir dulu Naga, kulihat kok kayak dikejar utang kau?”

“Siapa pula yang berani mengejar aku, yang memberi utangpun tak ada yang mau,” jawabnya sambil marah. Terus dia berlalu. Baru sepuluh langkah dia berhenti, garuk-garuk kepala, dan  membalikkan badan lalu menghampiriku.

“Kami dengar abang mau mencalonkan diri jadi Presiden, apa betul itu bang?”

“Ya, gitulah.”

“Bisa diceritakan asal mulanya, bang?”

“Dulu si Murad bilang, enak kali jadi serdadu  ya bang. Makan dapat, rokok dapat. Tapi aku bilang, kita yang lebih enak. Tak ada yang memerintah.kalau mau prei makan, ya sekali-kali masuk penjara.”

“Wah, jadi abang menganggap pemerintahan sekarang ini tidak ada bekas pekerjaannya. Makanya abang anggap tak ada yang memerintah.” Aku melirik kiri-kanan takut ada Intel yang menguping.

“Sudah abang siapkan konsep pidatonya, aku dengar Nurdin Pohan, Lukman, Bujang dan Murad jadi tim suksesi abang.” Dia mengambil sehelai kertas dari saku bajunya, terlihat tulisan yang sepertinya bukan tulisannya.

“Hai pemuda Indonesia, bangkitlah kau semua. Negeri kita sudah merdeka. Gendrang perang sudah berbunyi dengarlah panggilan ibu pertiwi.”

“Wah, bagus bang.”

Dia tertawa terkekeh-kekeh atas pujian itu.

“Siapa bilang Naga Bonar tak hebat.” Dia kembali tertawa, sambil membayangkan kening Pohan yang berkerut.

“Ya, kayak waktu Belanda mengirim mortir ke abang di atas bukit itu. Abang selamat. Dugaan Bujang, abang sudah mati, jadi ruh dan mengecil yang tinggal di dalam topi abang. Aku dengar si Mariam juga mau mencalonkan diri ya bang, apa yang abang tahu tentang dia?”

“Dia pernah menghancurkan rumah dr Zulmi, yang mengobati malariaku. Bapaknya Kirana. Dia bilang, keju di rumah itu bukti ia betul-betul mata-mata Belanda.”

“Apa abang nggak takut? Rumah calon mertua abang aja diporak-porandakannya. Sepertinya dia mencoba mengancam abang. Dia kan incumbent.”

“Dulu ada seorang kurir berpakain lengkap berpangkat kopral datang, waktu aku bertempur dengan Belanda di bukit itu. Kurir itu bilang, “ada perintah dari markas. Tembak – menembak harus dihentikan. Kita akan berunding dengan Belanda. Saudara Nagabonar harap melapor ke markas untuk menerima perintah mundur.”

Lantas, aku bilang, “Mundur ke mana ? kalau awak jatuh masuk laut macam mana ? lalu dimakan ikan. Sudah pernah kau dimakan ikan. ???”

“Terus Kurir itu menjawab, “Belum, tapi saudara harus mundur.”

“Bah, aku bilang aku tidak mau mundur. Langsung aku perintahkan pasukan, “Maju!!!”

“Tapi akhirnya kan mundur bang?” tanyaku bingung.

“Ya, iya………. Karena dia bilang ini perintah Mayor Pohan.” Mimik mukanya malu, dia mengalihkan pandangan..

“Jadi kalau si Mariam menghasut si Mayor Pohan, supaya abang berhenti mencalonkan diri jadi Presiden. Bagaimana, bang?” Aku coba memetakan kondisi perpolitikan.

Si abang diam. Kumis dan jenggot yang tak jelas tinggi rendahnya juga diam terpaku. Pelan-pelan ia beranjak, aku tahu dia bingung.

“Atau bagaimana pula kalau Mariam berkoalisi dengan Mayor Pohan? Ya, setidaknya Mayor Pohan jadi cawapresnya si Mariam?”

Dia tetap melangkah pelan, layaknya disebut menyeret-nyeret sepatu.

“Kapan aku bisa wawancara lagi, bang? Ya, nggak pala harus besok, bang.”

“Belanda masih jauh, tenang saja kau.”

Dan dia berlalu, sehelai bulu angsa di topinya seperti melambai-lambai.

25 April 2009 Posted by | budaya, Politik | Tinggalkan sebuah Komentar

Instan, Indonesiaku.

Instan, Indonesiaku.

Oleh edi santana sembiring

 

Modrenisasi selalu diidentikkan dengan instan. Dimulai dari rumah dengan makanan instan, minuman instan, pemutih instan (baik wajah maupun gigi), obat pelangsing/penggemuk instan, hingga obat kuat untuk seks instan. Melangkah keluar teras rumah, kita dapat mendengar raungan serine mobil. Pengawal pejabat yang ingin instan mengantarkan pejabat teras sampai ke tujuan. Suara sirenenya mengalahi sirene mobil mayat dengan iringannya yang terkadang begitu mengancam pengguna jalan yang lain, seakan pintu surga tidak terbuka lama.

 

Di lampu hijau yang akan berubah kuning menuju merah, teriakan klakson seakan mengancam mobil-mobil di hadapannya, bukan lagi pertanda untuk awas, tetapi sudah dapat diartikan sebagai ancaman, “gua pengen lewat, awas loe” Dan mobil lainnya tak kalah sangar, semua berburu ingin instan sampai tujuan. Hingga ada yang berteriak, “kalau mau cepat sampai, terbang saja.”

 

Di pohon-pohon yang tak lagi teduh kini tak bersarang burung atau tokek. Tapi wajah-wajah instan yang ingin cepat duduk di kursi empuk. Mengalahkan iklan-iklan pembesar alat vital atau sedot tinja. Waduh runyam, jangan-jangan mereka berkoalisi. Bersama kita bisa. Bersama kita bisa besarkan dan gelembungkan suara.. Bersama kita bisa sedot aspirasi bercampur tinja-tinja.

 

Tak jauh dari pohon-pohon itu, seorang tukang becak asyik masyuk berbicara, dengan lawan bicara di alam gaib. Layaknya orang gila. Mumpung pulsa lagi murah di jam sekarang atau kelipatan sekian menit, atau sesama operator, atau, dan, atau….. Instan, kenikmatan instan yang diberi dan pengguna harus ikut metode pemulsaan dengan angka-angka dan konstanta seperti Rp.0,12345/detik. Sehingga matematika yang dulu tak dinikmati, kini menjadi menarik  Provider telekomunikasi telah membangkitkan gairah matematika bagi masyarakat kita, semoga dapat diadaptasi untuk anak-anak SD yang akan belajar matematika.

 

Oh, ya, jangan lupa ketik reg spasi primbon spasi nama kirim ke #@$%. Instan, akan dapat garis hidup, atau cari garis peruntungan mu dengan mengetik reg spasi hoki spasi nama. Saya telah coba ketik nama-nama caleg-caleg, hasilnya, mereka-mereka tidak cocok untuk di tempat empuk dan ber AC, tapi di tempat basah, penjara bawah tanah.

 

Tentang penjara bawah tanah, saya sedikit waktu mencoba mengalihkan pembicaraan, tentang mimpi teman saya. Karena temanya tentang instan, mimpinya juga instan, yaitu Revolusi Instan. Beliau, sang jendral korlap -kordinator lapangan- , berangan-angan, apabila rezim dapat dijatuhkan dengan Revolusi, dia akan memenjarakan kaum tua. Batasan muda dan tua bukan merujuk usia Menpora tapi pemuda adalah sampai di umur 40 tahun. Semua yang tua akan dipecat dan dipenjarakan, KPK dibubarkan (selain karena ketuanya sudah tua, yang terindikasi koruptor adalah yang telah bangkotan dan mapan di birokrasi). Dan berikuttnya, sebagai orang timur yang menghormati orang tua (walau koruptor), akan disediakan kebutuhan-kebutuhan mereka di penjara bawah tanah yang lembab dan basah yang tentunya juga instan, miniatur alam di atas ruangan bawah tanah.

 

Instan menjadi menu santapan sehari-hari. Ingin cepat mengarung ke tujuan, tanpa perlu mempersiapkan sekoci andai ada gelombang yang menhantam. Kita dibuai oleh barang-barang instan, metode hidup instan, hingga instan menjadi kaya (bukunya berserak dijual di toko-toko buku). Hingga kemarin saat spanduk-spanduk janji-janji palsu digantung, saat itulah hari demi hari kita meratapi saudara-saudara kita satu persatu gantung diri karena keputusasaan. Di saat ada yang punya segudang janji di saat itu ada yang menatap dunia tak menjanjikan. Ya, di sana yang menjanjikan, di Surga. Perjalanan instan ke surga. Amin.

25 April 2009 Posted by | budaya, sosial | Tinggalkan sebuah Komentar

Fenomena Ponari dan Parpol

Fenomena Ponari dan Parpol

Oleh edi santana sembiring
Dukun cilik dari Jombang, Ponari, telah menjadi ‘harapan’ untuk sekian ribu orang yang sakit maupun sekedar ingin lebih ’sehat’. Setidaknya mereka membutuhkan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah mereka atau mereka gampang terbuai oleh janji harapan baru. Hal yang tak masuk akal, bertambah dengan kegilaan seperti mengambil air bekas mandi Ponari yang terbuang di selokan atau tanah tempat Ponari tinggal. Kesembuhan oleh Ponari yang disampaikan dan disaksikan oleh ribuan orang menjadi geledek di siang hari.
Parpol menjadi fenomena lima tahunan. Sinterklas yang hanya muncul di lima tahunan. Begitu lamanya mereka tidak muncul, sehingga berkesan ada ‘rindu’ di antara kita. Langit berhias beribu-ribu wajah, lama dan baru. Arjuna dan Rahwana. Yang disampaikan baru dalam tataran, inilah muka-muka kami, inilah janji-janji kami, inilah harta kami. Ya, sembako. Parpol lantang berteriak di antara massa, ya massa. Hanya di antara massa. Bagai geledek di siang hari.
Bila Ponari menjanjikan kesembuhan, walau menurut banyak orang sembuh karena sugesti, tetapi ribuan orang rela berkumpul dan bersaksi mereka telah sembuh. Entahlah defenisi sembuh yang bagaimana, tetapi setidaknya penantian mereka yang berjam-jam dan berhari-hari di pekarangan Ponari, malah mereka membuang waktu dan uang untuk mencari kesembuhan itu, adalah fenomena bahwa masyarakat kita perlu bukti bukan janji. Masyarakat kita perlu kesembuahn yang instan, perlu perubahan yang cepat.
Bagaimana dengan parpol? Massa dihadirkan (tentunya dengan biaya besar). Massa datang karena uang. Mendengar janji-janji yang semua dijanjikan akan instan diberi. Dalam 100 hari akan ini dan itu.
Ponari dan Parpol, hadir dan dicari oleh masyarakat yang sakit dan ’sakit’. Mereka sama-sama manusia ‘kecil’ yang memberi janji dari ‘batu yang disambar geledek’.
Bagai geledek di siang hari, kita baru sadar negeri ini telah sakit.

25 April 2009 Posted by | Politik, sosial | Tinggalkan sebuah Komentar

TEKS LAGU GENJER-GENJER

Teks Lagu Genjer-genjer

Bila mendengar lagunya seperti ada Ruh yang menari…… nada yang biasa di dengar di dengus petani, nelayan, buruh……

Teks Lagu Genjer-genjer

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
dudjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah.

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.


artinya :

Genjer2 tumbuh liar di selokan
Ibu datang mencabut genjer
Dapat sekarung lebih tanpa ragu
Genjer sekarang bisa dibawa pulang

Genjer pagi2 dibawa ke pasar
Dijajar dan dibeberkan di lantai
Si Ibu beli genjer ditaruh di tas
Genjer2 sekarang akan diolah

Genjer2 dimasukkan ke panci air panas
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal di tempat tidur
Genjer2 dimakan dengan nasi

10 Februari 2009 Posted by | budaya | Tinggalkan sebuah Komentar

SEKITAR GENJER-GENJER

SEKITAR GENJER-GENJER

Lirik lagu Genjer-genjer yang berkisah tentang tumbuhan genjer, tumbuhan sawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, menjadikannya mudah diterima oleh masyarakat luas. Boleh jadi mereka menyukai lagu ini karena lariknya mengisyaratkan keberpihakan pada rakyat kecil. Lirik lagu Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa, meski beberapa sumber menyebutkan adanya perbedaan lirik di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat digunakannya logat bahasa Jawa yang berbeda.

Mengenai muasal lagu Genjer-genjer, Hersri Setiawan memiliki catatan menarik. Dia mengisahkan bahwa pada bulan Desember 1962, para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia, mendapat undangan untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali. Selain wakil-wakil dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berangkat juga perwakilan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Utusan dari Lekra dipimpin oleh Jubaar Ajoeb dangan peserta antara lain Rivai Apin, Hr. Bandaharo, Pramudya Ananta Toer, Bujung Saleh Puradisastra, Dodong Jiwapraja, Samandjaja, Sobron Aidit dan Nyoto alias Iramani.

Sebelum menyeberang ke pulau Bali, rombongan tersebut menyempatkan diri untuk singgah di kota Banyuwangi, Jawa Timur. Disana mereka memperolah sambutan hangat dari pimpinan Lekra cabang setempat, salah satunya adalah M. Arif, pemimpin Lembaga Musik. Bersamanya hadir pula sekelompok perempuan berkain kebaya, yang kemudian memainkan alat musik angklung dan membawakan beberapa buah komposisi musik sebagai bentuk ucapan selamat datang. Dalam kesempatan itulah lagu Genjer-genjer, yang dibawakan sebagai lagu pembuka dan penutup reportoar, mampu memikat hati para tetamu dari Jakarta. Seusai acara penyambutan, mereka ramai memperbincangkan lagu yang digubah oleh M. Arif dan dinyanyikan dalam logat Banyuwangi itu. Bahkan Njoto sempat melontarkan komentar yang bernada ramalan bahwa lagu Genjer-genjer akan terkenal secara luas dan menjadi lagu nasional.

Belakangan, rerasan Nyoto, yang saat itu menjabat sebagai Ketua III CC-PKI dan sebelumnya juga dikenal sebagai seniman musik yang acap mengisi acara musik di Radio Republik Indonesia (RRI) bersama Bing Slamet, ternyata tidak meleset. Lebih kurang satu tahun setelah diperdengarkan dihadapan perwakilan Lekra di Banyuwangi, lagu Genjer-genjer mulai sering mengalun di ibukota melalui siaran RRI dan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Bahkan lagu tersebut dinyanyikan oleh Bing Slamet, penyanyi tenar saat itu, dan direkam dalam piringan hitam yang dijual bebas dipasaran.

Lagu Genjer-genjer, dan sebuah tarian yang juga dikenal dengan nama yang sama, kemudian sering dipentaskan di Jakarta oleh sebuah kelompok hiburan, Paduan Suara Gembira. Pada acara ulang tahun Konferensi Asia-Afrika pada bulan April 1965, lagu dan tarian tersebut disuguhkan pula oleh Paduan Suara Gembira ke hadapan para tamu terhormat dari negara-negara Asia-Afrika.

Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi
oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula. Walaupun pada perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu “Genjer-genjer” telah dipelesetkan.

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli
Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Akibat penulisan lagu “Genjer-genjer” menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis.

Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat.
(Dari berbagai Sumber)

Catatan kecil Aini Patria

SEKITAR LAGU GENJER-GENJER

Berita Utama harian SUARA MERDEKA, Semarang, Selasa 4 Juli 2000,
menurunkan tulisan tentang Lagu Genjer-genjer. Tulisan itu diawali dengan
kata-kata lagu Genjer-genjer yang ditulis pakai bahasa Jawa-Jawa Tengah.
Sedang seingat saya sejak pertamakali mendengarkan lagu Genjer-genjer itu,
bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa-Banyuwangi.

Inti tulisan itu, menyampaikan komentar dan usulan dalang kondang Ki
Manteb Sudharsono. Menurut Ki Manteb, Genjer-genjer itu ciptaan Ki Nato
Sabdho, maka harus direhabilitasi. Usulan Ki Manteb itu, tentu perlu
disambut sebagai usulan yang positif.

Terlepas siapa penciptanya, menyanyikan sebuah lagu adalah merupakan hak
asasi setiap manusia; seperti halnya menari, berolahraga, bernapas,
menghirup udara, tertawa dsb; selama cara menyenyikanya tidak menggangu
pihak lain.

Dengan menyanyi, nembang, ura-ura, klengkengan, hati manusia menjadi
gembira, tidak lesu, segar; singkatnya badan bertambah sehat dan otak
menjadi ringan. Menyanyi telah menjadi bagian hidup manusia-manusia waras
sejak dahulu kala.

Hanya pengausa-penguasa yang kurang waraslah yang mengadakan pelarangan
terhadap sebuah lagu.

Namun alangkah baiknya, bila usulan Ki Manteb itu dasarnya bukan hanya
karena lagu itu diciptakan oleh Ki Narto Sabdho, andaikata yang
menciptakan orang lain, kalau lagu itu indah dan baik isinya apakah tak
perlu untuk direhabilitasi.

Ketika rejim militer Orde Baru yang dikepalai Soeharto naik tahta, karena
banyak mengadakan larangan-larangan, tak sedikit orang yang tak berani
menyanyi, meskipun nyanyian itu secara resmi tidak dilarang. Misalnya lagu
1 Mei secara resmi barangkali tak ada larangan, tapi karena Hari Kemengan
Buruh Sedunia tak pernah diperingati, bahkan kata BURUH saja sudah bikin
mata merah penguasa, ya tak ada yang menyanyikan.

Ambillah contoh lagi sikap Gesang, pencipta lagu yang namanya akan
tercatat dalam sejarah itu. Selain lagu-lagunya sangat terkenal dan konon
lagu Pohon Beringin nya menjadi lagu Golkar, sebenarnya Gesang punya lagu
simpanan yaitu lagu Tembok Besar. Lagu ini ditulisnya ketika Pak Gesang
melawat ke Tiongkok bersama teman-temannya ketika Lekra belum dilarang.
Barangkali lagu Tembok Besar itu, sekarang sudah waktunya untuk
didengarkan kembali.

Dalam tulisan itu, lagu Genjer-genjer digolongkan Lagu Dolanan. Dalam
konteks lama tembang Jawa memang cuma mengenal Tembang Gede, Tembang
Tengahan, Macapat dan lagu Dolanan. Sebenarnya sejak pertengahan tahun
limapuluhan, telah muncul genre baru. Kalau dalam puisi muncul ‘puisi Jawa
gagrag anyar’ yang disebut juga geguritan (geguritan sebenarnya nama
pinjaman dari puisi lama sebangsa singir), di bidang tembang juga telah
lahir ‘tembang gagrag anyar’.

Diantara pencipta lagu gagrag anyar ini di Jawa Tengah diantaranya Pak
Suyud dari Salatiga, di Jawa Timur Pak Arif dari Banyuwangi. Karena bentuk
lagu itu sudah nyimpang dari tembang yang sudah dibakukan, mungkin dengan
mudah disebut saja Lagu Dolanan.

Menilik isinya lagu “Blanja wurung” ciptaan Pak Suyud sukar digolongkan
sebagai lagu dolanan, demikian juga Genjer-genjer. Lagu Blanja wurung
yang sering ditembangkan dan ditarikan dalam Bedayan

Ketoprak Kridho Mardi, Kridha Mudha, Manggala dsb pada tahun enampuluhan
itu, isinya mengambarkan kesulitan ekonomi pada masa itu. Mau belanja saja
sampai wurung (tidak jadi) karena uangnya tak cukup. Bisakah lagu semacam
ini digolongkan lagu dolanan anak-anak?

Penutup lagu itu berbunyi: Mbakyu leres niku wau/ Buruh, tani lan bakul
kudu bersatu… (Mbakyu betul tadi itu/ Buruh, tani dan pedagang harus
bersatu…). Penerapan front persatuan dalam menanggulangi kesulitan
ekonomi, tentu tak bisa digolongkan sebagi lagu dolanan anak-anak.

Tentang lagu Genjer-genjer, setahu saya penciptanya adalah Pak Arif,
putera kreatif rakyat Banyuwangi. Lagu itu menyebar luas sekitar awal
tahun enampuluhan, dinyanyikan di kampung-kampung juga di istana.

Seperti lagunya yang lain Genjer-genjer ditulis dalam bahasa
Jawa-Banyuwangi. Saya tahu bahasa Jawa-Jawa Tengah dan Jawa Timur
(Surabayan). Tapi mengikuti kata-kata lagu yang diciptakan Pak Arief dalam
bahasa Jawa-Banyuwangi, hanya mengerti garis besarnya.

Tentang lagu-lagu ciptaan Pak Arif, lebih dinamis ketimbang lagu-lagu
Jawa; barangkali semacam peralihan dari Jawa ke Bali. Pengiring lagunya
juga cukup menarik, merupakan kombinasi dari beberapa macam alat musik.
Selain mengunakan unsur gamelan: kendang, ricikan, kempul, kenong, gong
dsb, juga dipadu dengan angklung dan biola. Pentas musik itu dipandu oleh
dirigen seperti musik barat. Saya sempat menyaksikan pentas Arif itu,
kalau tak salah pada tahun 1964 di gedung SBKA Jakarta.

Selain mementaskan karya ciptaan sendiri, Pak Arif juga mementaskan lagu
rakyat. Tentang lagu Genjer-genjer, menurut Pak Arif sendiri latar
belakangnya adalah jaman Jepang, waktu itu banyak orang kelaparan. Kalau
di beberapa tempat orang pada makan ares (bonggol) pisang, di Banyuwangi
kebanyakan mencari daun genjer.

Untuk dibandingkan, disajikan dua kutipan bait pertama kata-kata lagu itu.
Pertama dari Sura Merdeka, kedua dari saya sendiri berdasarkan ingatan
yang digali lagi setelah tersimpan lebih tigapuluh lima tahun.

Dari Suara Merdeka, 4 Juli 2000

Jer genjer
Ana ledhokan pating kleler
Oo, makne thole
oleh sak tenong
Si thole teka nggawa si genjer…

Dari saya:

Njer genjer
ring kedhokan pating keleler
emake thole teka-teka mbubuti genjer
ole satenong mengko sedhot sing thole-tole
genjer-genjer saiki digawa mole…

Untuk meneliti siapa pencipta lagu ini, saya kira tidak terlalu sukar,
soalnya cuma waktu. Saya yakin diantara 200 juta rakyat Indonesia ini
ada
yang masih menyimpan atau menyembunyikan piringan hitam lagu itu.

Hanya karena pertarungan antara elite politik yang pro
reformasi-demokrasi
dengan golongan status quo yang mempertahankan harta dan tahta masih
gencar, yang menyimpan piringan hitam lagu itu, nampaknya masih segan
untuk
memutar kembali.
Lagu Pak Arif yang lain yang saya masih ingat namanya ialah lagu Banteng Merah atau Semangat Banteng Merah.
Bagaimanakah nasib seniman rakyat Banyuwangi Arif itu?

7 Juli 2000
Aini Patria

sumber : http://adimarhaen.multiply.com/journal/item/38/Masih_Sekitar_Genjer-Genjer

10 Februari 2009 Posted by | budaya | Tinggalkan sebuah Komentar

MOBOKRASI DAN DEMOKRASI YANG CACAT

Mobokrasi dan Demokrasi yang Cacat

Oleh EEP SAEFULLOH FATAH 

(Kompas, 10 Febuari 2009)

Tragedi Medan pekan lalu membuktikan bahwa urusan kita dengan penguatan dan pendewasaan demokrasi memang masih jauh dari selesai. Benar bahwa dihitung dari kejatuhan Soeharto, kita sudah menjalani demokratisasi selama 10 tahun 8 bulan dan 20 hari. Namun, bahaya mobokrasi, yakni kekuasaan yang dikendalikan oleh kerumunan, masih berkeliaran di pojok ruangan. Demokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan barisan, bukan kerumunan. Barisan dibentuk oleh orang atau kelompok yang memainkan peran masing-masing secara dewasa dalam jalin kelindan interaksi antara hak dan kewajiban. Di dalam barisan, setiap pihak berperan secara beradab. Sementara itu, kerumunan adalah himpunan massa. Dalam kerumunan, setiap orang atau kelompok merasa kuat karena beraksi secara kolektif. Berlindung di balik kolektivitas ini, setiap anasir kerumunan merasa gagah menuntut hak-haknya sambil membunuhi hak-hak orang lain. Demokrasi adalah arena bagi warga negara, bukan massa. Warga negara adalah tiap orang yang memenuhi lima kualifikasi. Pertama, tahu dan pandai menjaga hak-haknya. Kedua, tahu hak-hak orang lain dan pandai menunaikan kewajibannya atas hak-hak itu. Ketiga, bertumpu pada diri sendiri, bukan menyandarkan diri pada orang lain, termasuk pada pemimpin sekalipun. Keempat, aktif dan menjemput, bukan pasif menunggu. Kelima, melawan secara dewasa dan beradab setiap pencederaan hak-haknya. Massa adalah kumpulan liar yang tak pandai mengelola diri. Mereka menghindari kompetisi sehat dan lebih senang ”tawuran” di tengah ketidakpastian aturan main. Massa memanjakan sikap kanak-kanaknya dengan mengambil kesempatan di tengah kekacauan atau anarki, sambil berusaha menghindari tanggung jawab sosial, politik, dan hukum atas tindakan yang mereka kerjakan. Mobokrasi Kerumunan massa bukanlah penopang demokrasi. Alih-alih, jika dibiarkan tak terkendali, mereka membangun mobokrasi. Inilah yang kita temukan di seputar tragedi Medan yang memilukan itu. Seorang pemimpin lembaga legislatif lokal terbunuh di tengah kemarahan massa. Ya, kemarahan. Inilah satu kata kuncinya. Jika Anda seorang warga negara, Anda tak meluapkan ”kemarahan”, melainkan mengagendakan ”perlawanan”. Sekalipun menargetkan pencapaian tujuan-tujuan mulia— misalnya, menuntut pemekaran wilayah untuk lebih menyejahterakan masyarakat daerah itu—massa yang marah terjebak menggunakan cara-cara yang jauh dari kemuliaan. Mobokrasi pun merupakan pengkhianatan atas—bukan pengekspresian—demokrasi. Sebab, ia berkhianat pada karakter asasi demokrasi. ”Yang membuat demokrasi unik,” tulis William Riker (1982), ”adalah berpadunya tujuan dan cara. Bukan hanya tujuan yang harus baik, tetapi juga cara untuk mencapainya.” Dalam karya klasiknya, Political Man, Seymour Martin Lipset juga mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya sekadar cara untuk membuat setiap kelompok dapat mencapai tujuan mereka. Demokrasi juga cara untuk membangun masyarakat yang baik. Demokrasi yang cacat Dalam kerangka itu, tragedi Medan adalah sebuah alarm peringatan bahaya. Tragedi itu menegaskan bahwa setelah lebih dari 10 tahun menjalani demokratisasi, bukan tak mungkin sebagian dari kita tersesat ke alamat yang salah. Wolfgang Merkel dan Aurel Croissant dalam studinya (Democratization, Desember 2004) memberi nama yang tepat untuk alamat yang keliru itu: demokrasi yang cacat alias defective democracy. Demokrasi yang cacat bisa jadi berhasil membangun mekanisme atau tata cara demokratis yang serba rumit. Namun, ia gagal mengatasi berbagai soal pokok masyarakatnya: diskriminasi, kesenjangan antarkelompok, pendewasaan perilaku publik, penyejahteraan, dan pemakmuran. Studi Merkel dan Croissant menunjukkan betapa demokrasi yang cacat itu tersebar di berbagai kawasan dunia yang disapu gelombang ketiga demokratisasi. Ada beragam latar belakang pembentuk demokrasi yang cacat itu. Indonesia disebut beberapa kali sebagai contohnya. Salah satunya, bersama kasus Rusia dan Filipina, demokrasi Indonesia dipandang potensial cacat karena terpeliharanya warisan kebudayaan dan kekuasaan otokratik yang ditanam kuat dalam rentang waktu yang panjang. Akhirnya, tragedi Medan, menurut saya, bukanlah alasan tepat untuk mengatakan bahwa berdemokrasi dan membiarkan kebebasan berkembang biak adalah kekeliruan. Alih-alih, tragedi itu justru menegaskan bahwa berdemokrasi adalah pilihan yang tepat. Hanya saja, pilihan yang tepat ini belum disertai kemampuan ”manajemen demokratisasi” yang layak. Inilah pokok soal kita!

EEP SAEFULLOH FATAH Staf Pengajar pada Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia

Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/10/04331181/mobokrasi.dan.demokrasi.yang.cacat

10 Februari 2009 Posted by | demokrasi | Tinggalkan sebuah Komentar

Lho Kok Marah

Lho Kok Marah

Untuk Bpk. SBY yang kebetulan punya hobi menyanyi. Dari pada marah-marah lebih baik nyanyi “lagu lama” :

Dan semoga mendengar lagu itu dapat memaklumi kekurangan orang lain, seperti keluhan Bpk. yang susah tidur di hadapan ratusan pimpinan pasca sarjana Indonesia oleh karena memikirkan harga fluktuatif minyak dunia. Minyak dunia menjadi masalah kompleks yang mengganggu tidur.

Mari berdoa agar harga minyak dunia tidak fluktuatif sehingga Bpk. SBY bisa tidur nyenyak.  :)

5 Februari 2009 Posted by | SBY | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.